Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr:18)
Sebut saja Rahmad, Lumantar, Imron, Fajar, Ari, Andi, Apri, Juli, dan Niko. Mereka semua tergabung dalam satu kelompok liqo’. Sebenarnya kelompok halaqoh ini bukan aku yang menjadi Murobbi bagi mereka, kalo untuk binaanku sendiri sih kelas satu. Mereka ini sudah kelas tiga dan hampir tamat. Kalau murobbi mereka adalah kak mali, saudara dekatku. Saking dekatnya kami, setiap kegiatan yang mereka adakan, pasti aku selalu diikutsertakan, tepatnya jadi sopir, kalau kami Rihlah dengan mengendarai mobil. Ndak papa lah jadi sopir, tapi aku menikmati kok.
Rahmad, begitu aku mengenalnya. Banyak memori yang tersimpan dengan sosok yang satu ini. Perawakannya sih tidak tinggi sekali, ya sekitar 150 cm gitu lah. Kulit yang sawo matang, sebenarnya agak sedikit hitammm he..he...hee.. (afwan). Kali pertama aku jumpa dengan Rahmad, ketika itu aku dan Andri (juga salah satu saudara dekatku) mengagendakan MABIT bulanan, itu lho malam bina iman dan takwa. Salah satu kegiatan yang sering diadakan oleh ROHIS SMA N Tugumulyo. Ternyata yang datang pada acara malam itu sedikit, kalau tidak salah sekitar orang 9 orang, salah satunya ya Rahmad. Saat itu Rahmad masih kelas satu, itu yang aku ketahui dari perkenalan kami dengan peserta mabit pada malam itu.
”Nama ku Rahmad, panjangnya Rahmad Ari Wibowo” sapanya
”Sekarang kelas satu SMA, kalo orang tua tinggal di Nibung, jadi aku disini ngekos sama teman yang lain” lanjutnya.
Tak kusangka Rahmad dari daerah yang jauh. Nibung. Tak terbayangkan oleh benakku, ternyata masih ada yang mau menuntut ilmu sejauh ini. Kalau aku hitung-hitung jarak tempuh Nibung Tugumulyo 3.5 jam. Fantastik. Padahal di daerahnya ”Nibung” ada SMA kok, tapi Rahmad beda itu yang kuketahui setelah aku cukup lama berbincang dengannya. Jadi teringat kisah Lintang di film Laskar Pelangi, yang bela-belain sekolah dan menempuh jarak sampai 30 km dengan mengendarai sepada bututnya.
Kembali lagi ke Rahmad, ketika dia mengatakan kalau dia kos dengan teman-temannya, terlintas dibenakku untuk tinggal bersama aku di DPD.
”mad, mau dak tinggal dengan kakak di DPD PKS”dengan semangat aku tawarkan.
”kan aku ngekos kak”
”makanya itu, daripada ngekos n bayar mendingan kamu tinggal sama kita di DPD, tempatnya luas kok. Ada kakak samo kak Darofan.”
”nanti aku pikirkan dulu kak”
”dan satu lagi, ada komputer yang bisa kamu gunakan untuk mengerjakan tugas” timpalku
Selang dua hari dari acara tersebut, Rahmad menghubungi aku untuk ikut bergabung dengan aku dan darofan di kantor PKS ini. Jadilah kami bertiga di rumah yang dijadikan kantor ini. Awalnya rahmad masih canggung. Untuk ngomong atau berbincang-bincangpun susah. Entah dia malu atau memang kurang pede aja.
Suatu ketika
”Mad, makan” ajakku
”i-iyo” terbata-bata
Lucu
Tapi itu dulu. Sekarang Rahmad sudah jauh beda dengan rahmad yang dulu aku kenal. Sekarang rahmad begitu PD. Pandai berbicara, bahkanketika kelas tiga beliau sudah siap untuk mengisi kajian adek kelasnya.
Aku juga teringat ketika kak mali, memintaku untuk menggantikan beliau untuk mengisi kelompok rahmad. Waktu itu aku memberi taujih mengenai lagu apa yang mengingatkan rahmad dan kawan-kawan dengan orang yang mereka cintai. Saat tiba giliran rahmad, dia menyanyikan lagunya Iwan Fals dengan judul Ibu.
Mata rahmad berkaca-kaca, begitu dia menyenandungkan lagu itu. Tak bisa dibendungnya lagi air mata yang akan tumpah. Ya, mungkin rahmad rindu dengan orang tuanya yang nun jauh disana.
Aku ingat betul ketika itu tanggal 13 oktober 2008, tepatnya hari senin. Hari yang bersejarah bagiku. Genap sudah setengah dienku. Ya, pada hari itu akan melaksanakan akad nikah. Rahmad yang sudah dua tahun tinggal denganku belai-belain untuk tidak sekolah, hanya untuk menghadiri pernikahanku.
Rahmad. Laki-laki sederhana dari Nibung. Adikku. Ketika itu kamu dan teman-temanmu mengajak aku Rihlah bareng ke Vila Biru Curup. Begitu mengharu biru ketika tiba di sesikau menceritakan pengalaman dengan teman-temanmu selama kamu menjalani liqo’ ini. Air matamu tak berhenti jatuh kebumi ketika kamu menceritakan awal kiprahmu di ROHIS dan di Liqo’ ini.
Ahhhhh.
Indahnya hari itu.
Dan kini kau, rahmad. Adikku. Selangkah lagi kau akan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Pesanku. Jadilah rahmad yang aku kenal sekarang, yang ketika semua orang menceritakan tentangmu, dada ini bergemuruh, karna kerinduanku padamu. Melebihi kisah ayat-ayat cinta.
Ada Rahmad, ada juga Lumantar yang mengisi ruang di hati ini. Perkenalanku dengan sosok yang sangat dewasa ini, yang kata teman-temannya adalah sang orator. Mungkin karna beliau ini pandai bicara. Ketika itu randi, salah satu kakak tingkatnya mengenalkan Lumantar padaku. waktu itu aku sedang melatih nasyid, dan randi pun datang untuk mengikutsertakan Lumantar bergabung di kelompok nasyid yang ku bina. Perkenalan singkat. Hingga akhirnya Lumantar sibuk dengan kegiatan organisasi yang diembannya. Sehingga kami jarang sekali bertemu. Paling ketika bertemu cuma say hai saja.
Bumi berputar pada porosnya. Detik berkumpul menjadi menit. Menit berkumpul menjadi jam. Jam berkumpul menjadi hari. Minggu berkumpul menjadi bulan. Tak terasa hari itu, ketika aku dan Lumantar CS Rihlah ke Vila Biru Curup. Lumantar yag begitu akrab dengan siapapun. Termasuk aku.
Udara dingin yang masuk lewat celah-celah yang ada di vila yang kami tempati, menambah syahdunya malam itu. Kau membacakan puisi yang begitu indah. Puisi yang membuatmu dan teman-temanmu berkaca-kaca, termasuk aku juga sih.
Lukisan kata untukmu Murobbiku...
Begitu kau memulai, nafasmu begitu memburu. Kau begitu menghayati makna di setiap barisnya.
Ada Sejuta rasa bergelayut disini..
Menelisik kenangan 2 tahun yang lalu..
Ketika engkau datang
dengan senyuman Ukhuwah yang begitu menyentuh…
Tak bisa kutebak semua kata yang terlamun disini…
Karena telah banyak engkau ukir dalam sanubari dan ruang gerakku…
Semua rembulan yang pernah singgah dalam titian mimpi
Menuliskan kisah didikanmu yang penuh dengan keikhlasan…
Engkau mungkin tak pernah tahu..
Bahwa noda ini mampu kau sisihkan secara perlahan
Mampu kau buat prasasti cinta dalam relung anak didikmu…
Atau bahkan kau tak pernah menyadari..
Bahwa titik-titk ilmu yang kau hamburkan menjelang malam dirumah Allah itu
Begitu subur tumbuh dalam geliat dakwah muttarabbimu…
Aku menyadari…
Memimpikan engkau menjadi ayahku adalah sebuah hal yang tak mungkin..
Namun peranmu yang terhamburkan dalam perjuangan mentari
seakan menguatkan langkahku untuk terus bergerak…
Aku bahkan sangat Memahami…
Menginginkan engkau menjadi kakakku
seperti mengharapkan fatamorgana untuk disentuh..
Tapi, engkau merengkuhku dalam dekapan hangat penuh cinta dan Ukhuwah…
Semua terasa begitu membiru…
Syahdu.. dan tercatat dalam ruang maknaku yang terdalam….
Langkahmu yang tersapu kelabu…
Kadang membuatku jenuh memandang bulir-bulir kata yang tertulis
Namun kau selalu menyambutku dengan riang…
Dalam bahasa qalbu yang tak kuasa untuk kutolak…
Larianmu yang kadang begitu menjauh…
Seakan membuatku tergugu karena tak mampu mengimbangimu
Tapi, kau selalu menghantarkan embun yang menyapa riang di awal pagi…
Hari Ini…
Semua kenangan tersimpan jelas dalam batinku…
Mencoba menerangkan secara perlahan tentang semangat perngorbananmu…
Aku mencoba meniti jalanmu..
Dalam geliat takbir yang kususun dideruan hari
Agar suatu saat aku mampu melahirkan karya sepertimu
Bahkan melebihi pelangi yang tergambarkan disilauan mentari…
Semua ingin kuukir…
Karena engkau selalu mengajarkan kepadaku
Agar keikhlasan harus selalu tertanam didalam diri ku…
Semua hening.
Mahluk Allah lainnya pun mungkin larut dalam puisimu itu.
Semua mata tertuju padamu, ketika kau mengisahkan awal pertemuanmu dengan sahabat-sahabat terbaikmu. Kau meceritakan semua tentang mereka, sampai ketika kau menceritakan kesalahan yang pernah kau lakukan. Kau hampir saja mengetuk pintu neraka
Masih terngiang di telingaku, ketika kau cerita dengan beruraian air mata.
”kata akh niko, terkena virus merah jambu. Jujur saya marah, saat teman-teman........... mengatakan........... kamu disidang ya tar.......... pak mali..... apa saya ini......... apa saya seorang penjahat....... apakah saya seorang yang melakukan kesalahan.........”
Hening
Kau menangis sejadi-jadinya. Aku teringat betul, kau menangis di pelukanku.
Lumantar Wahyudi. Sejak kejadian itu, kau telah mengisi ruang kosong yang ada di hatiku. Adikku. Kau begitu berbeda. Saat kau bercerita ingin kuliah di UNSRI, saat itupun aku berdoa, Ya Allah jika itu yang terbaik untuk adikku maka kabulkanlah pintanya yang Allah.
Itulah lumantar, orang yang sangat dekat dengan Imron. Ya, Imron Rozali. Lelaki putih bersih ini, juga anak perantauan. Sama dengan Rahmad. Agak pendiam. Tapi mudah tersentuh.
Bagaimana tidak, akupun menyaksikan kejadian itu. Waktu itu Rohis SMA N Tugumulyo, mengadakan pelatihan. Di akhir acara, panitia menyelipkan muhasabah. Kau menangis tersedu-sedu apalagi, ketika semua peserta di suruh berdiri. Dan kau memeluk Rahmad sekuat-kuatnya. Kau menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang kau bayangkan. Ataukah kau merasa senasib degan Rahmad. Ahh, hatimu begitu mudah tersentuh. Mataku pun berkaca-kaca saat melihat kau dan Rahmad begitu dalam.
Imron. Aku begitu kehilangan dirimu, saat teman-temanmu rihlah dan kau malah memilih untuk pulang kampung. Sudah dua kali kau absen ketika rihlah.
Tapi kau menjawab pertanyaan di benakku. Diakhir kelas tiga ini kau akhirnya ikut juga rihlah di Villa Biru Curup. Kau menjelaskan semua, mengapa kau tidak ikut dalam rihlah sebelumnya. Kau begitu mengerti tentang keadaan orangtuamu. Ketika semua teman-temanmu berangkat rihlah, kau lebih memilih membantu orang tuamu di dusun.
Itulah Imron, hanya sedikit memori dalam otakku. Teruslah berjuang adikku, kau sudah berhasil meyakinkan orangtuamu. Bahwa, kau bisa mengemban amanah mereka. Keep hamasah
Ada kejadian lucu ketika juli, salah satu personil dalam kelompok ini curhat dengan aku dan teman-temannya di Villa Biru Curup.
” dan buat......... Ambon, yang bernama Imron”
Kamipun terpingkal-pingkal sampai sakit perut. Padahal itu bukan lelucon yang kau buat. Tapi dari aksen yang kau keluarkan itu, membuat kami tak henti-hentinya tertawa sambil ditahan.
Lagi-lagi kau membuat kami terbahak-bahak.
”buat pak mali.. kak Febta ana ucapkan terima kasih........... karna telah merubah nama baik ana........ yang dulu setiap guru memanggil saya dengan sebutan Iblis...........”
Ahhh. Juli, kau membuat malam itu yang sangat dingin itu terasa hangat.
Maafkan aku ya, karna memanggilmu dengan sebutan JUPE. Apalagi kak mali, menyebutmu dengan sebutan rambut owok-owok. Memang pembawaanmu lucu.
Disamping kelucuanmu, kau mampu menghancurkan tembok tebal pemisah. Kau dulu sangatlah liar, kau dibenci oleh banyak orang. Tapi kau mampu menepis semua itu. Kau berubah 180 derajat. Dan kau bangga berada disekeliling orang-orang baik ini.
Juli. Orang suban. Jangan pernah berhenti bergerak.
Malam itu, aku diajak mabit lagi di tempat Andi. Lumayan jauh. Ternyata setelah sampai dirumah andi, kami disambut hangat oleh orang tua andi. Memang orangtua andi sangat ramah, dan kamipun tidak canggung berada disana.
Andi. Orang yang mampu mempengaruhi Juli untuk berada di jalan kebenaran ini. Aku salut dengan sosok andi. Juli yang di sekolah terkenal dengan kenakalannya mampu ia taklukkan. Mampu ia ajak ke ROHIS, yang bagi setiap orang menganggap rohis itu menakutkan.Itulah andi.
Yang rela pulsanya dipakai kak mali untuk menghubungi teman-teman seLiqo’nya. Ketika akan rihlah ke Bengkulu. Atau kaupun rela meminjamkan mobil orang tuanya untuk dipakai rihlah ke Villa Biru Curup. Ketika mobil menabrak jembatan di depan DPD, kaupun menganggap hal itu angin lalu.
Kau adalah sosok Abdurrahman bin Auf dikelompok liqo’ ini.
Andi Zulianto
Kau punya impian kuliah di STAN, semoga Allah mendengar doa-doamu.
Aku bangga punya adik-adik sehebat kalian.
Walaupun terkadang ada rasa ingin marah juga, ketika Apri dan Ari jatuh saat mengendarai motor bapak mertuaku. Di Kabawetan tepatnya. Kami rihlah dengan membawa motor. Dan aku membawa dua motor, motor aku sendiri dan motor mertuaku. Dan ketika motor itu berada ditangan apri dan ari, mereka jatuh. Luka-luka. Dan motornyapun rusak.
Ketika pulang kerumah, aku tidak berani ngomong dengan bapak mertuaku. Sampai tiga hari baru aku ngomong. Hasilnya amarah yang keluar.
Tapi forget that.
Sudah berlalu koq. Motornya pun sudah baik lagi.
Sosok apri sangat berbanding terbalik dengan ari. Apri yang orang dusun, mudah sekali tersentuh seperti Imron, sangat berbeda sekali dengan ari yang berlatar belakang padang sangat sulit untuk menangis. Ada lagi yang beda dari mereka. Kalau mau mencari seribu perbedaan diantara mereka ini pasti ada. Apri yang pendiam, ari yang banyak omong, kreatif, inovatif, apa yang diinginkannya pasti dia kejar. Apri yang anak tunggal dalan keluarga juga sama dengan ari. Tapi kalau apri tinggal dengan orang tuanya, beda dengan ari. Ari tinggal bersama makwonya.
Aku salut dengan ari, dia bisa berdiri sendiri dengan ikut bantu-bantu makwonya jual nasi padang.
Aku juga bangga dengan hati yang lembut yang dimiliki oleh Apri. Bagaimana tidak, Apri sampai sesenggukan ketika beliau membaca puisi waktu di Villa Biru Curup.
Terima Kasih
Terima Kasih Untuk Kata Yang Terucap
Terima Kasih Untuk Nasehat Yang Terlontar
Terima Kasih Untuk Keringat Yang Menetes
Terima Kasih Untuk Senyum Yang Tersemai
Terima Kasih Untuk Amarah Yang Tertahan
Terima Kasih Untuk Air Mata Kerinduan
Bulir bening di mata Apri pun jatuh satu persatu
Terima Kasih Untuk Pelukan Yang Hangat
Terima Kasih Untuk Doa Yang Membangkitkan
Terima Kasih Untuk Bimbingan Yang Tulus
Hanya Terima Kasih Yang Terucap
Terima Kasih Murabbiku
Terima Kasih
Ahh...
Apri......... Ari..........
Dua sosok yang bersinggungan ini punya cita-cita yang agung. Gapailah cita-cita adekku.
Aku jadi teringat hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa rasulullah bersabda:
”ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sehabat berlalu di depannya. Orang yang di samping Rasulullah tadi berkata: ’Aku mencintai dia, ya Rasulullah.’ Lalu Nabi menjawab: ’Apakah kamu telah memberitauhkan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ’belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ’beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kapadanya seraya berka: .’Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ’Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
Akupun ingin mengungkapkan rasa ini. Aku mencintai kalian karena Allah.
Oh ya masih ada dua orang lagi yang belum aku ceritakan disini, capek juga sih. Tapi lanjutkan. Kayak moto SBY wae. He..he..
Aku ke fajar dulu aja. Karena ada cerita lucu dengan bapak ini. Fajar. Walaupun aku bertetangga dengan dia, aku jarang sekali bertemu dengan fajar. Sosok ini menurut teman-temannya identik dengan kelanting dan kejeng. Ada julukan tambahan untuk orang yang satu ini. ”KEJENG ++”
Julukan ini muncul ketika kami rihlah ke Villa Biru Curup. Malam itu, kasur di tegakkan agar supaya (ini kata-katanya Lumantar) ruangannya jadi luas. Ehh. Tak taunya kami menemukan komdom tiga buah. Akhirnya, saking penasaran. Fajar diam-diam ke kamar mandi mengisi ”barang itu” dengan air. Ehhh. Tak taunya ketahuan dengan yang lain apa yang fajar lakukan. Akhirnya muncul julukan baru untuk fajar.
Beda Fajar, beda niko. Kalu fajar tinggi nek Niko pendek.
Dulu aku menjulukinya ”ENOS”. Waktu itu aku sedang nonton film Denias dengan rahmad. Ehh. Ada yang mirip niko. Maka keluarlah julukan untuk niko yang kata teman-temannya super ngeyel. Bahkan seluruh teman liqo’nya menyerah kalau menasehati bapak yang satu ini.
Niko
Ada julukan baru yang diberikan kepadanya waktu di Villa Biru Curup.
”Budi Anduk”
nggak taulah mengapa teman-temanya menjulukinya seperti itu. Setahu aku sih agak mirip-mirp gitcu. Heee.heee
terlepas dari itu, anaknya baik koq. Pintar lagi dalam kaligrafi, ceramah, hadroh. Maklum katanya niko, dia itu jeblosan pesantren.?????????
Niko
Tetanggaku waktu aku masih di DPD dulu
Aneh.
Menjadi muslim adalah menjadi kain putih.
Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta, rahmat bagi semesta alam.
Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Illahi, wahai Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang
Mengingat-ingat mereka, hati ini begitu mengharu biru.
Ada pendar cahaya disana.
Ahh. Tak terasa setelah menunggu beberapa menit binaanku datang juga dan akupun memulai liqo dengan binaaku kelas satu. Di musholah yang banyak menyimpan kenangan manis selama tujuh tahun ini.
Aku.
Febta Heriansa.
Takkan pernah berhenti untuk menyebar kebaikan dimanapun.